JAKARTA, PRIMASIDAGROSID. “Dalam dua tahun terakhir, pasar induk hanya minta dipasok sawi putih berbobot di bawah 1 kg per krop karena lebih mudah dijual kepada konsumen. Tentu, pemasok serta petani produsen harus mampu memenuhi kriteria tersebut, dan tetap untung dalam menjalankan usahanya.” Demikian disampaikan Enang Kardiman (37), bandar sekaligus petani sayuran di kawasan Warnasari, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ia sendiri, memasok 7 ton aneka sayuran per hari. Dari jumlah itu, 5 ton diantaranya adalah sawi putih alias petsai. Ragam sayuran itu ia pasok ke Pasar Induk Cikopo (Purwakarta), Cibitung (Bekasi), Kramatjati (Jakarta), dan pasar induk Tanah Tinggi (Tangerang). Untuk memenuhi permintaan, selain menanam sendiri seluas 1 hektare, Enang bermitra dengan 100 petani. Lahan yang digarap petani mitra seluas 15 hektare. “Sekarang, pasokan sawi dari petani mitra sebanyak 2 ton per hari. Tiga ton lagi diperoleh dari petani di luar mitra,” tandasnya. Pilihan Favorit Menurut Enang, di Pangalalengan ada lebih 15 varietas sawi putih yang diusahakan petani. “Semuanya bisa dijual. Tapi bila sembarangan varietas, yang menanggung risiko adalah bandar seperti saya,” ujarnya. Ia memberi ilustrasi, pada dua tahun lalu ia menanam salah satu varietas yang gampang ditanam, tapi akhirnya rumit di pasar. “Sampai di pasar induk sawinya melepuh akibat daya simpan rendah, sehingga mudah terserang lodoh (busuk lunak). Akhirnya, oleh pedagang besar di pasar induk, harganya digulung, sehingga rugi. Rugi di bandar rugi pula dipihak petani produsen,” papar Enang yang sudah menekuni usaha sayuran sejak 2014. Berkaca dari kejadian itu, Enang bersama petani mitra mencari varietas yang menguntungkan semua pihak. “Sudah dua tahun kami beralih mengusahakan sawi Saenan. Dan di pasar pun, Saenan mudah dijual karena daya tahannya bagus. Hampir semua pedagang besar di pasar induk lebih memilih Saenan ketimbang sawi putih jenis lain,” jelasnya. Dari sisi budidaya, lanjut Enang, sawi putih Saenan 348 CR yang benihnya diproduksi oleh PT Agrosid Manunggal Sentosa tersebut, penanamannya tidak rewel. “Umur panennya pun genjah dan bobot hasil panennya bisa di-setting sesuai tujuan pasar,” ucapnya. Sistem penanamannya, imbuh dia, bisa monokultur maupun tumpangsari. Umumnya, sawi putih dapat dipanen pada umur 60 hari setelah tanam (HST). Khusus Saenan, menurut Enang, untuk mendapatkan bobot 500—700 gram per krop sesuai permintaan pasar induk, dapat dipanen pada usia 55 HST, dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm. Sementara untuk panen super (pasar modern), Saenan dapat dipanen pada usia 55—60 HST, dengan jarak tanam 45 cm x 25 cm. Produktifitasnya antara 2—4 kg per krop. “Bila harga sawi super jatuh, Saenan dapat dipanen pada umur 45 HST untuk tujuan pasar induk. Pada umur tersebut Saenan sudah jadi krop yang padat sehingga dapat dipanen,” kilahnya. Kondisi itu sangat berbeda bila dibandingkan varietas lain. “Bila dipanen pada 45 HST, varietas lain tidak ada bobotnya. Per kemasan plastik isi 50 krop, timbangannya paling 28—30 kg. Sedangkan Saenan sudah mencapai 35 kg. Kalau dipanen pada umur 55 HST, timbangan Saenan per kemasan menembus 43—45 kg. Ini tentu menjadi keuntungan bagi petani, lantaran bisa dikutak-katik sesuai permintaan pasar,” ungkap Enang. Menurut Dikdik, petugas lapang PT Agrosid Manunggal Sentosa Wilayah Pangalengan, Saenan memiliki karakteristik berbeda dengan sawi putih pada umumnya. “Tanamannya tumbuh tegak, tidak melebar, dan membentuk krop pada umur 25—30 HST. Pembentukan krop mulai dari lembaran daun pucuk terdalam, dan terus memadat. Dampak positifnya, walaupun dipanen muda pada umur 45 HST, kropnya berbobot, tidak kempes karena sudah padat. Lantaran tegak pula, pada musim hujan, air tidak menggenang pada krop. Selain itu, bonggol kropnya kecil dengan kandungan air rendah. Hal itu pula lah yang menjadikan Saenan tahan penyakit busuk lunak maupun busuk daun, dan daya simpannya panjang hingga 7 hari tetap segar. Kondisi ini sangat baik untuk pemasaran antarpulau maupun ekspor,” bebernya. Wajar bila kemudian Saenan menjadi pilihan favorit para petani sawi putih. “Di Pangalengan, petani sawi putih yang menanam sawi Saenan sekitar 85%,” ujar Agus Sidik Permana (36), yang telah mengusahakan sawi putih sejak 10 tahun silam. Ia sendiri kini menanam Saenan secara bertahap, dengan populasi sekali tanam 20 ribu—30 ribu tanaman. “Dengan pola tanam bertahap, Alhamdulillah setiap bulan saya mampu menjual 10 ton sawi Saenan melalui bandar,” syukurnya. Tahan Akar Gada Dari pengalaman Enang dan Agus Sidik selama ini, perawatan selama budidaya terbilang gampang. Pasalnya, selain tahan penyakit lodoh, Saenan juga dikenal tahan penyakit akar gada, dan tahan penyakit bercak daun kuning Alternaria. Oleh karena itu, perlindungan tanaman menjadi tidak berat. “Penyemprotan untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit bercak kuning pada varietas lain, harus seminggu sekali. Tapi untuk Saenan, 10 hari sekali pun masih aman, yang penting terbebas dari serangan ulat daun,” ucap Enang. Penyakit bercak daun kuning, lanjut dia, biasanya menyerang menjelang panen. Intensitas penyakit akan meningkat terutama pada perpindahan dari kemarau ke penghujan. Pada varietas lain, dalam semalam bisa habis kena penyakit tersebut. Bila penyakit bercak daun kuning menyebar hingga ke krop, pasar tidak menerima. Lain halnya Saenan. “Pada kondisi cuaca yang sama, Saenan lebih tahan. Pada cuaca ekstrem sekali pun, yang terserang hanya daun bagian luar. Dan saat dipanen, daun luar yang terserang akan dikupas dibersihkan, sehingga krop tetap mulus. Pun bila Saenan terpaksa harus panen pada saat hujan, masih bisa dilaksanakan. Hasil panennya tetap aman hingga dibawa ke pasar, lantaran tahan penyakit busuk lunak,” papar Enang. Selain itu, “Penyakit yang fatal pada sawi putih adalah akar gada. Dan sampai sekarang, keberadaan penyakit akar gada dalam tanah belum bisa dibersihkan hingga 100%,” ujar Agus Sidik. Meski begitu, “Alhamdulillah, hingga kini Saenan tetap tahan penyakit akar gada,” imbuhnya. Dulu sebelum beralih menanam Saenan, lanjut Agus Sidik, kebun 200 tumbak yang ditanami populasi 20 ribu sawi putih, ludes terserang akar gada. “Kala itu, tanaman yang terserang terus layu hingga tidak bisa dipanen alias puso,” kenangnya. Akar gada, dari pengalaman Agus Sidik, lebih banyak terjadi pada musim hujan. Lahan menjadi basah, lembap, dan asam, sehingga cocok untuk perkembangan penyakit. Perlu Dirawat Enang dan Agus Sidik tidak menampik, meski budidayanya mudah dan tahan penyakit, selama budidaya Saenan harus dirawat dengan baik. “Sebelum lahan ditanami, banyak petani tidak memperhatikan kesehatan dan kesuburan tanah. Akhirnya, tanaman mudah terserang penyakit,” urai Enang. Oleh karena itu, baik dirinya maupun petani mitra, dalam setiap penananam selalu menyertakan pupuk organik. Sebelum tanam, lahan diolah dengan menggunakan cangkul, cultivator, atau rotary. Sekitar 1—2 minggu sebelum tanam, garitan atau bedengan ditaburi pupuk kandang. “Pada pemupukan dasar, saya tidak menyertakan pupuk kimia NPK,” aku Agus Sidik. Cara ini ia tempuh untuk mengurangi serangan penyakit akar gada. “Bila pupuk kandang belum difermentasi, tiap garitan atau guludan bisa disemprot menggunakan Trico-G dengan dosis 1 kg per drum 200 liter, selambat-lambatnya 1 minggu sebelum tanam,” saran Dikdik. Setelah lahan dipersiapkan secara optimal, baru lah pindah tanam. “Bibit Saenan siap pindah tanam berumur 15 hari,” ucap Agus Sidik. Dalam satu musim tanam, Agus Sidik mengaku hanya melakukan pemupukan dua kali, yakni pada umur 15 dan 30 HST, dengan cara dicor per tanaman. Untuk pengecoran pada umur 15 HST, Agus Sidik membuat ramun pupuk per drum 200 liter. Ia mencampurkan 2 kg Calsiprill, 1 tablet zat pengatur tumbuh, dan 2 kg KNO3 merah. Sedangkan untuk umur 30 HST, campuran per drumnya adalah 2 kg Calsiprill dan 2 kg KNO3 putih. Guna melindungi tanaman dari serangan hama penyakit, dalam sekali tanam, Agus Sidik juga mengaku hanya melakukan penyemprotan 4—5 kali, disesuaikan kondisi di lapangan. Yaitu pada awal tanam, usia 15 HST, 25 HST, 35 HST, dan terakhir 40 HST. Usai pindah tanam, Agus Sidik sekaligus melakukan penyemprotan. Ke dalam drum 200 liter, ia membuat ramuan berupa campuran 200 ml insektisida beta sifultrin 50 g/l, 250 ml zat pengatur tumbuh, dan 300 gram fungisida propineb 70%. “Tujuan pembuatan ramuan ini untuk mengendalika ulat tanah dan melindungi tanaman dari serangan penyakit, serta merangsang pertumbuhan akar,” kilahnya. “Bila di kebun diketahui ada siput, sebaiknya petani juga mengaplikasikan Metadex 15 GR. Siput biasanya menyerang pada awal pindah tanam dan umur 25—30 HST. Aplikasinya ada dua cara, ditabur atau disemprotkan. Jika ditabur, dosinya 3 kg per hektare. Atau sejumput (15—20 butir granul) dengan penaburan selang dua lobang tanam. Sementara bila disemprotkan, dosisnya 1 gram per liter air,” beber Dikdik. Formula yang diramu Agus Sidik pada penyemprotan pertama, ia pertahankan hingga pada penyemprotan kedua. Pada penyemprotan ketiga dan keempat, bila diketahui ada serangan ulat, maka insektisida beta sifultrin ia ganti dengan 100 ml insektisida Shoot 360 SC. “Dalam sekali penanaman, aplikasi insektisida Shoot 360 SC maksimal dua kali, agar hama tidak kebal. Bila penyemprotan kelima diperlukan, insektisidanya kembali menggunakan beta sifultrin,” tandasnya. Jika dari hasil monitoring diketahui ada serangan bercak daun kuning, maka formula tadi ditambah dengan 200 ml fungisida azoxystrobin 200 g/l + difenaconazole 125 g/l. Dengan menerapkan cara itu, menurut Agus Sidik, hama penyakit dapat dikendalikan, dengan hasil panen optimal. Biaya produksinya Rp500 per tanaman. Agus Sidik melakukan panen Saenan rata-rata pada umur 50 HST dengan bobot 700—800 gram per krop. Jarak tanamnya 25 cm x 25 cm. “Kalau harga lagi tinggi, umur 45 HST juga sudah dipanen,” ujarnya. Lain lagi bila ada orderan dipanen super, umur panennya 60 HST dengan bobot rata-rata 2 kg per krop. “Alhamdulillah, dari setiap penanaman, lebih dari 90% sawi Saenan terjual,” syukurnya. Dengan harga Rp3.000 per kg (minggu kedua Desember), dan volume panen 10 ton per bulan, omzet yang diraih Agus Sidik mencapai Rp30 juta setiap bulan. Jumlah itu belum ditambah dari dua komoditas lainnya yang ia usahakan bareng sawi Saenan pada luasan 4 hektare. Apalagi yang diraih Enang yang mampu menjual sawi Saenan 5 ton per hari. Melalui ketekunan, kesabaran, keuletan, dan kemampuan membaca pasar, mereka bedua hingga kini tetap eksis berusaha tani sayuran. Di usianya yang masih muda, mereka pun sudah mampu hidup sejahtera. Jangankan motor, mobil, dan rumah, lahan pun mereka sudah mampu beli. (admin/sumber: ihorti)
